![]() |
| Menakjubkan !!! Pemuda Ini Rela Kakinya Dipotong Dengan Gergaji Tanpa Dibius |
“Barangsiapa ingin melihat
seseorang dari ahli Surga, hendaklah ia melihat ‘Urwah bin az-Zubair” (Abdul
Malik bin Marwan)
Baru saja matahari sore itu
memancarkan sinarnya di Baitul Haram dan mempersilahkan jiwa-jiwa yang bening
untuk mengunjungi buminya yang suci tatkala sisa-sisa para sahabat Rasulullah
SAW dan para pembesar tabi’in mulai berthawaf di sekeliling Ka’bah, mengharumkan
suasana dengan pekikan tahlil dan takbir dan memenuhi hamparan dengan do’a-do’a
kebaikan.
Dan tatkala orang-orang
membuat lingkaran per-kelompok di sekitar Ka’bah nan agung, yang berdiri kokoh
di tengah Baitul Haram dalam kondisi yang berwibawa dan agung. Mereka memenuhi
pandangan dengan keindahannya yang memikat, dan memoderator
pembicaraan-pembicaraan di antara mereka tanpa keisengan dan perkataan dosa.
Di dekat Rukun Yamani,
duduklah empat orang pemuda yang masih remaja dan terhormat nasabnya serta
berbaju harum seakan-akan mereka bagaikan merpati-merpati masjid, berbaju
mengkilat dan membuat hati jinak karenanya.
Mereka itu adalah ‘Abdullah
bin az-Zubair, saudaranya; Mus’ab bin az-Zubair, saudara mereka berdua; Urwah
bin az-Zubair dan Abdul Malik bin Marwan.
Terjadi perbincangan ringan
dan sejuk di antara anak-anak muda ini, lalu tidak lama kemudian salah seorang
di antara mereka berkata,
“Hendaklah masing-masing
dari kita memohon kepada Allah apa yang hendak dia cita-citakan.”
Maka khayalan mereka terbang
ke alam ghaib nan luas, angan-angan mereka berputar-putar di taman-taman
harapan nan hijau, kemudian Abdullah bin az-Zubair berkata,
“Cita-citaku, aku ingin
menguasai Hijaz dan memegang khilafah.”
Saudaranya, Mus’ab berkata,
“Kalau aku, aku ingin
menguasai dua Irak (Kufah dan Bashrah) sehingga tidak ada orang yang
menyaingiku.”
Sedangkan Abdul Malik bin
Marwan berkata,
“Jika anda berdua hanya puas
dengan hal itu saja, maka aku tidak akan puas kecuali menguasai dunia semuanya
dan aku ingin memegang kekhilifahan setelah Muawiyah bin Abi Sufyan.”
Sementara ‘Urwah bin
az-Zubair terdiam dan tidak berbicara satu kalimat pun, maka saudara-saudaranya
tersebut menoleh ke arahnya dan berkata,
“Apa yang kamu cita-citakan
wahai Urwah?”
Dia menjawab, “Mudah-mudahan
Allah memberkati kalian semua terhadap apa yang kalian cita-citakan dalam
urusan dunia kalian. Sedangkan aku hanya bercita-cita ingin menjadi seorang
‘alim yang ‘Amil (Mengamalkan ilmunya), orang-orang belajar Kitab Rabb, Sunnah
Nabi dan hukum-hukum agama mereka kepadaku dan aku mendapatkan keberuntungan di
akhirat dengan ridla Allah dan mendapatkan surga-Nya.”
Kemudian waktu pun berjalan
begitu cepat, sehingga memang kemudian Abdullah bin az-Zubair dibai’at menjadi
Khalifah setelah kematian Yazid bin Muawiyah (Khalifah ke dua dari khilafah
Bani Umayyah), dan dia pun menguasai kawasan Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan dan
Iraq. Kemudian dia dibunuh di sisi Ka’bah tidak jauh dari tempat dimana dia
pernah bercita-cita tentang hal itu.
Dan ternyata Mus’ab bin
Az-Zubair pun menguasai pemerintahan Iraq sepeninggal saudaranya, ‘Abdullah
namun dia juga dibunuh di dalam mempertahankan kekuasaannya tersebut.
Demikian pula, Abdul Malik
bin Marwan memangku jabatan Khalifah setelah ayahnya wafat, dan di tangannya
kaum Muslim bersatu setelah pembunuhan terhadap ‘Abdullah bin az-Zubair dan
saudaranya, Mus’ab di tangan pasukan-pasukannya. Kemudian dia menjadi penguasa
terbesar di dunia pada zamannya.
Lalu bagaimana dengan ‘Urwah
bin Az-Zubair? Mari kita mulai kisahnya dari pertama.
‘Urwah bin az-Zubair
dilahirkan setahun sebelum berakhirnya kekhilafahan Umar al-Faruq, di dalam
keluarga paling terpandang dan terhormat kedudukannya dari sekian banyak
keluarga-keluarga kaum muslimin.
Ayahnya adalah az-Zubair bin
al-‘Awwam, sahabat dekat dan pendukung Rasulullah SAW, orang pertama yang
menghunus pedang di dalam Islam dan salah satu dari sepuluh orang yang
dijanjikan masuk surga.
Ibunya bernama Asma` binti
Abu Bakar yang bergelar berjuluk “Dzatun Nithaqain” (Pemilik dua ikat pinggang.
Hal ini karena dia merobek ikat pinggangnya menjadi dua pada saat hijrah, salah
satunya dia gunakan untuk mengikat bekal Rasulullah SAW dan yang satu lagi dia
gunakan untuk mengikat bekal makanannya).
Kakeknya pancar (dari pihak)
ibunya tidak lain adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalifah Rasulullah SAW dan
sahabatnya ketika berada di dalam goa (Tsur). Neneknya pancar (dari pihak)
ayahnya bernama Shafiyyah binti Abdul Muththalib bibi Rasulullah SAW sedangkan
bibinya adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah RA. Pada saat jenazah ‘Aisyah dikubur,
‘Urwah sendiri yang turun ke kuburnya dan meratakan liang lahadnya dengan kedua
tangannya.
Apakah anda mengira bahwa
setelah kedudukan ini, ada kedudukan lain dan bahwa di atas kemuliaan ini, ada
kemuliaan lain selain kemuliaan iman dan kewibawaan Islam?
Untuk merealisasikan
cita-cita yang telah diharapkannya perkenaan Allah atasnya saat di sisi Ka’bah
itu, dia tekun di dalam mencari ilmu dan memfokuskan diri untuknya serta
menggunakan kesempatan untuk menimba ilmu dari sisa-sisa para sahabat
Rasulullah SAW yang masih hidup.
Dia rajin mendatangi
rumah-rumah mereka, shalat di belakang mereka dan mengikuti pengajian-pengajian
mereka, sehingga dia berhasil mentrasfer riwayat dari Ali bin Abi Thalib,
Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid,
Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas dan an-Nu’man bin Basyir. Dia
banyak sekali mentransfer riwayat dari bibinya, ‘Aisyah Ummul Mukminin sehingga
dia menjadi salah satu dari tujuh Ahli fiqih Madinah (al-Fuqahâ` as-Sab’ah)
yang menjadi rujukan kaum muslimin di dalam mempelajari agama mereka.
Para pejabat yang shaleh
meminta bantuan mereka di dalam mengemban tugas yang dilimpahkan Allah kepada
mereka terhadap urusan umat dan negara.
Di antara contohnya adalah
tindakan Umar bin Abdul Aziz ketika datang ke Madinah sebagai gubernurnya atas
mandat dari al-Walid bin Abdul Malik. Orang-orang datang kepadanya untuk
menyampaikan salam.
Ketika selesai melaksanakan
shalat dhuhur, dia memanggil sepuluh Ahli fiqih Madinah yang diketuai oleh
‘Urwah bin Az-Zubair. Ketika mereka sudah berada di sisinya, dia menyambut
mereka dengan sambutan hangat dan memuliakan tempat duduk mereka. Kemudian dia
memuji Allah ‘Azza wa Jalla dan menyanjung-Nya dengan sanjungan yang pantas
bagi-Nya, lalu berkata,
“Sesungguhnya aku memanggil
kalian semua untuk sesuatu yang kiranya kalian semua diganjar pahala karenanya
dan menjadi pendukung-pendukungku dalam berjalan di atas kebenaran. Aku tidak
ingin memutuskan sesuatu tanpa pendapat kalian semua, atau pendapat orang yang
hadir dari kalian-kalian semua. Jika kalian semua melihat seseorang menyakit
orang lain, atau mendengar suatu kedzaliman dilakukan oleh pegawaiku, maka demi
Allah, aku meminta agar kalian melaporkannya kepadaku.”
Maka ‘Urwah bin az-Zubair
mendo’akan kebaikan baginyanya dan memohon kepada Allah agar menganugerahinya
ketepatan (dalam bertindak dan berbicara) dan mendapatkan petunjuk.
‘Urwah bin az-Zubair
benar-benar menyatukan ilmu dan amal. Dia banyak berpuasa di kala hari demikian
teriknya dan banyak shalat malam di kala malam gelap gulit, selalu membasahkan
lisannya dengan dzikir kepada Allah Ta’ala.
Selain itu, dia selalu
menyertai Kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan tekun membacanya. Setiap harinya, dia
membaca seperempat al-Qur’an dengan melihat ke Mushafnya.
Kemudian dia membacanya di
dalam shalat malam hari dengan hafalan.
Dia tidak pernah
meninggalkan kebiasaannya itu semenjak menginjak remaja hingga wafatnya,
kecuali satu kali disebabkan adanya musibah yang menimpanya. Mengenai apa
musibah itu, akan dihadirkan kepada pembaca nanti.
Sungguh ‘Urwah bin az-Zubair
mendapatkan kedamaian hati, kesejukan mata dan surga dunia di dalam shalatnya,
karenanya, dia melakukannya dengan sebaik-baiknya, melengkapi syarat rukunnya
dengan sempurna dan berlama-lama di dalamnya.
Diriwayatkan tentangnya
bahwa dia pernah melihat seorang yang sedang melakukan shalat dengan ringan
(cepat), maka ketika orang itu telah selesai shalat, dia memanggilnya dan
berkata kepadanya, “Wahai anak saudaraku, Apakah anda tidak mempunyai keperluan
kepada Tuhanmu ‘Azza wa Jalla?! Demi Allah sesungguhnya aku memohon kepada
Allah di dalam shalatku segala sesuatu bahkan garam.”
‘Urwah bin Az-Zubair adalah
juga seorang dermawan, pema’af dan pemurah. Di antara contoh kedermawanannya,
bahwa dia mempunyai sebuah kebun yang paling luas di seantero Madinah. Airnya
nikmat, pohon-pohonnya rindang dan kurma-kurmanya tinggi. Dia memagari kebunnya
selama setahun untuk menjaga agar pohon-pohonnya terhindar dari gangguan
binatang dan keusilan anak-anak. Dan, jika sudah datang waktu panen,
buah-buahnya siap dipetik dan siap dimakan, dia menghancurkan kembali pagar
kebunnya tersebut di banyak arah supaya orang-orang mudah untuk memasukinya.
Maka mereka pun memasukinya,
datang dan kembali untuk memakan buah-buahnya dan membawanya pulang dengan
sesuka hati. Dan setiap kali dia memasuki kebunnya ini, dia mengulang-ulang
firman Allah, “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu
” MASYA ALLAH, LAA QUWWATA ILLA BILLAH” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini
terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)” (Q.,s.al-Kahfi:39)
Dan pada suatu tahun dari
kekhilafahan al-Walid bin Abdul Malik (khalifah ke enam dari khalifah-khalifah
Bani Umayyah, dan pada zamannya kekuasaan Islam mencapai puncaknya), Allah Azza
wa Jalla berkehendak untuk menguji ‘Urwah bin az-Zubair dengan ujian yang
berat, yang tidak akan ada orang yang mampu bertahan menghadapinya kecuali
orang yang hatinya penuh dengan keimanan dan keyakinan.
Khalifah kaum muslimin
mengundang ‘Urwah bin az-Zubair supaya mengunjunginya di Damaskus, lalu Urwah
memenuhi undangan tersebut dan membawa serta putra tertuanya.
Dan ketika sudah datang,
Khalifah menyambutnya dengan sambutan yang hangat dan memuliakannya dengan
penuh keagungan. Namun saat di sana, Allah SWT berkehendak lain, tatkala putra
‘Urwah memasuki kandang kuda al-Walid untuk bermain-main dengan kuda-kudanya
yang tangkas, lalu salah satu dari kuda itu menendangnya dengan keras hingga
dia meninggal seketika.
Belum lama sang ayah yang
bersedih menguburkan putranya, salah satu kakinya terkena tumor ganas (semacam
kusta) yang dapat menjalar ke seluruh tubuh. Betisnya membengkak dan tumor itu
dengan sangat cepat berkembang dan menjalar.
Karena itu, Khalifah
memanggil para dokter dari segala penjuru untuk tamunya dan meminta mereka
untuk mengobatinya dengan segala cara. Akan tetapi, para dokter sepakat bahwa
tidak ada jalan lain untuk mengatasinya selain memotong betis ‘Urwah, sebelum
tumor itu menjalar ke seluruh tubuhnya dan merenggut nyawanya. Maka, tidak ada
alasan lagi untuk tidak menerima kenyataan itu.
Ketika dokter bedah datang
untuk memotong betis ‘Urwah dan membawa peralatannya untuk membelah daging
serta gergaji untuk memotong tulang, dia berkata kepada ‘Urwah,
“Menurutku anda harus
meminum sesuatu yang memabukkan supaya anda tidak merasa sakit ketika kaki anda
dipotong.”
Maka Urwah berkata,
“O..tidak, itu tidak
mungkin! Aku tidak akan menggunakan sesuatu yang haram terhadap kesembuhan yang
aku harapkan.”
Maka dokter itu berkata
lagi,
“Kalau begitu aku akan
membius anda.”
Urwah berkata,
“Aku tidak ingin, kalau ada
satu dari anggota badanku yang diambil sedangkan aku tidak merasakan sakitnya.
Aku hanya mengharap pahala di sisi Allah atas hal ini.”
Ketika dokter bedah itu
mulai memotong betis, datanglah beberapa orang tokoh kepada ‘Urwah, maka ‘Urwah
pun berkata,
“Untuk apa mereka datang?.”
Ada yang menjawab,
“Mereka didatangkan untuk
memegang anda, barangkali anda merasakan sakit yang amat sangat, lalu anda
menarik kaki anda dan akhirnya membahayakan anda sendiri.”
Lalu ‘Urwah berkata,
“Suruh mereka kembali. Aku
tidak membutuhkan mereka dan berharap kalian merasa cukup dengan dzikir dan
tasbih yang aku ucapkan.”
Kemudian dokter mendekatinya
dan memotong dagingnya dengan alat bedah, dan ketika sampai kepada tulang, dia
meletakkan gergaji padanya dan mulai menggergajinya, sementara ‘Urwah membaca,
“Lâ ilâha illallâh, wallâhu Akbar.”
Dokter terus menggergaji,
sedangkan ‘Urwah tak henti bertahlil dan bertakbir hingga akhirnya kaki itu
buntung.
Kemudian dipanaskanlah
minyak di dalam bejana besi, lalu kaki Urwah dicelupkan ke dalamnya untuk menghentikan
darah yang keluar dan menutup luka. Ketika itulah, ‘Urwah pingsan sekian lama
yang menghalanginya untuk membaca jatah membaca Kitab Allah pada hari itu. Dan
itu adalah satu-satunya kebaikan (bacaan al-Qur’an) yang terlewati olehnya
semenjak dia menginjak remaja. Dan ketika siuman, ‘Urwah meminta potongan
kakinya lalu mengelus-elus dengan tangannya dan menimang-nimangnya seraya
berkata,
“Sungguh, Demi Dzat Yang
Mendorongku untuk mengajakmu berjalan di tengah malam menuju masjid, Dia Maha
mengetahui bahwa aku tidak pernah sekalipun membawamu berjalan kepada hal yang
haram.”
Kemudian dia mengucapkan
bait-bait sya’ir karya Ma’n bin Aus,
Demi Engkau, aku tidak
pernah menginjakkan telapak tanganku pada sesuatu yang meragukan
Kakiku tidak pernah
mengajakku untuk melakukan kekejian
Telinga dan mataku tidak
pernah menggiringku kepadanya
Pendapatku dan akalku tidak
pernah menunjuk kepadanya
Ketahuilah, sesungguhnya
tidaklah musibah menimpaku sepanjang masa melainkan ia telah menimpa orang
sebelumku
Al-Walid bin Abdul Malik
benar-benar merasa sedih terhadap musibah yang menimpa tamu agungnya. Dia
kehilangan putranya, lalu dalam beberapa hari kehilangan kakinya pula, maka
al-Walid tidak bosan-bosan menjenguknya dan mensugestinya untuk bersabar
terhadap musibah yang dialaminya.
Kebetulan ketika itu, ada
sekelompok orang dari Bani ‘Abs singgah di kediaman Khalifah, di antara mereka
ada seorang buta, lalu al-Walid bertanya kepadanya perihal sebab kebutaannya,
lalu orang itu mejawab,
“Wahai Amirul mukminin, di
dalam komunitas Bani ‘Abs tidak ada orang yang harta, keluarga dan anaknya
lebih banyak dariku. Lalu aku bersama harta dan keluargaku singgah di pedalaman
suatu lembah dari lembah-lembah tempat tinggal kaumku, lalu terjadi banjir besar
yang belum pernah aku saksikan sebelumnya. Banjir itu menghanyutkan semua yang
aku miliki; harta, keluarga dana anak. Yang tersisa hanyalah seekor onta dan
bayi yang baru lahir. Sedangkan onta yang tersisa itu adalah onta yang binal
sehingga lepas. Akibatnya, aku meninggalkan sang bayi tidur di atas tanah untuk
mengejar onta tersebut. Belum begitu jauh aku meninggalkan tempat ku hingga
tiba-tiba aku mendengar jeritan bayi tersebut. Aku menoleh namun ternyata
kepalanya telah berada di mulut serigala yang sedang menyantapnya. Aku segera
menyongsongnya namun sayang aku tidak bisa menyelamatkannya, karena srigala
telah membunuhnya. Lalu aku mengejar onta dan ketika aku berada di dekatnya, ia
menendangku dengan kakinya. Tendangan itu mengenai wajahku, sehingga keningku
robek dan mataku buta. Begitulah aku mendapatkan diriku di dalam satu malam
telah menjadi orang yang tanpa keluarga, anak, harta dan mata.”
Maka al-Walid berkata kepada
pengawalnya,
“Ajaklah orang ini menemui
tamu kita ‘Urwah bin az-Zubair. Mintalah dia mengisahkan ceritanya supaya
‘Urwah mengetahui bahwa ternyata masih ada orang yang mengalami cobaan yang
lebih berat darinya.”
Ketika ‘Urwah diangkut ke
Madinah dan dipertemukan dengan keluarganya, dia mendahului mereka dengan
ucapan,
“Jangan kalian merasa ngeri
terhadap apa yang kalian lihat. Allah ‘Azza wa Jalla telahmenganugerahuiku
empat orang anak, lalu mengambil satu di antara mereka dan masih menyisakan
tiga orang lagi. Segala puji hanya untuk-Nya. Dan Dia memberiku empat anggota
badan, kemudian Dia mengambil satu darinya dan menyisakan tiga untukku, maka
segala puji bagi-Nya. Dia juga telah memberiku empat buah yang memiliki ujung
(kedua tangan dan kedua kaki-red.,), lalu Dia mengambilnya satu dan menyisakan
tiga buah lagi untukku. Dan demi Allah, Jika pun Dia telah mengambil sedikit
dariku namun telah menyisakan banyak untukku. Dan jika pun Dia mengujiku satu
kali namun Dia telah mengaruniaiku kesehatan berkali-kali.”
Ketika penduduk Madinah
mengetahui kedatangan imam dan orang ‘alim mereka, ‘Urwah bin az-Zubair, mereka
berbondong-bondong datang ke rumahnya untuk menghibur dan menjenguknya. Di
antara untaian kata ta’ziah yang paling berkesan adalah perkataan Ibrahim bin
Muhammad bin Thalhah kepadanya,
“Bergembiralah wahai Abu
Abdillah! salah satu anggota badan dan anakmu telah mendahuluimu menuju surga
dan yang keseluruhannya akan mengikuti yang sebagiannya itu, insya Allah
Ta’ala. Sungguh, Allah telah menyisakan sesuatu darimu untuk kami yang sangat
kami butuhkan dan perlukan, yaitu ilmu, fiqih dan pendapat anda. Mudah-mudahan
Allah menjadikan hal itu bermanfaat bagimu dan kami. Allah lah Dzat Yang Maha
menanggung pahala untukmu dan Yang menjamin balasan kebaikan amalmu.”
‘Urwah bin az-Zubair tetap
menjadi menara hidayah, petunjuk kebahagiaan dan penyeru kebaikan bagi kaum
muslimin sepanjang hidupnya. Dia sangat peduli terhadap pendidikan
anak-anaknya, khususnya, dan anak-anak kaum muslimin lainnya, umumnya. Dia
tidak pernah membiarkan kesempatan berlalu tanpa digunakannya untuk memberikan
penyuluhan dan nasehat kepada mereka.
Di antara contohnya, dia
selalu mendorong anak-anaknya untuk menuntut ilmu ketika berkata kepada mereka,
“Wahai anakku, tuntutlah
ilmu dan kerahkanlah segala kemampuan dengan semestinya. Karena, jika kamu
sekarang ini hanya sebagai orang-orang kecil, mudahan-mudahan saja berkat ilmu,
Allah menjadikan kamu orang-orang besar.”
Penuturan lainnya,
“Aduh betapa buruknya,
apakah di dunia ini ada sesuatu yang lebih buruk daripada orang tua yang
bodoh?.”
Dia juga menyuruh mereka
untuk menilai sedekah sebagai hadiah yang dipersembahkan untuk Allah ‘Azza wa
Jalla. Yaitu, dalam ucapannya,
“Wahai anakku, janganlah
sekali-kali salah seorang di antara kamu mempersembahkan hadiah kepada Rabb-nya
berupa sesuatu yang dia merasa malu kalau dihadiahkan kepada tokoh yang
dimuliakan dari kaumnya. Karena Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Paling Mulia, dan
Paling Dermawan serta Yang Paling Berhak untuk dipilihkan untuk-Nya.”
Dia juga pernah memberikan
pandangan kepada mereka (anak-anaknya) tentang tipikal manusia dan seakan
mengajak mereka menembus langsung menuju siapa inti dari mereka itu,
“Wahai anakku, jika kamu
melihat seseorang berbuat kebaikan yang amat menawan, maka harapkanlah kebaikan
dengannya meskipun di mata orang lain, dia seorang jahat, karena kebaikan itu
memiliki banyak saudara. Dan jika kamu melihat seseorang berbuat keburukan yang
nyata, maka menghindarlah darinya meskipun di mata orang lain, dia adalah orang
baik, karena keburukan itu juga memiliki banyak saudara. Dan ketahuilah bahwa
kebaikan akan menunjukkan kepada saudara-saudaranya (jenis-jenisnya yang lain),
demikian pula dengan keburukan.”
Dia juga berwasiat kepada
anak-anaknya supaya berlaku lemah lembut, berbicara baik dan bermuka ramah. Dia
berkata,
“Wahai anakku, sebagaimana
tertulis di dalam hikmah, ‘Hendaklah kamu berkata-kata baik dan berwajah ramah
niscaya kamu akan lebih dicintai orang ketimbang cinta mereka kepada orang yang
selalu memberikan mereka hadiah.”
Bilamana dia melihat manusia
cenderung untuk berfoya-foya dan menilai baik kenikmatan duniawi, dia
mengingatkan mereka akan kondisi Rasulullah SAW yang penuh dengan kesahajaan
kehidupan dan kepapaan.
Di antara contohnya adalah
sebagaimana yang diceritakan Muhammad bin al-Munkadir (seorang tabi’i dari
penduduk Madinah, wafat pada tahun 130 H),
“Saat ‘Urwah bin az-Zubair
menemuiku dan memegang tanganku, dia berkata, ‘Wahai Abu Abdullah.’
Lalu aku menjawab,
“Labbaik.”
Kemudian dia berkata,
“Saat aku menemui Ummul
mukminin ‘Aisyah RA, dia berkata, ‘Wahai anakku.’
Lalu aku menjawab,
‘Labbaik.’
Beliau berkata lagi, ‘Demi
Allah, sesungguhnya kami dahulu pernah sampai selama empat puluh malam tidak
menyalakan api di rumah Rasulullah SAW, baik untuk lentera ataupun yang
lainnya.’
Lalu aku berkata, ‘Wahai
Ummi, bagaimana kalian semua dapat hidup?’
Beliau menjawab, ‘Dengan dua
benda hitam (Aswadân); kurma dan air.’
Selanjutnya ‘Urwah bin
az-Zubair hidup hingga mencapai usia 71 tahun, yang diisinya dengan kebaikan,
kebajikan dan ketakwaan.
Ketika ajal menjelang, dia
sedang berpuasa, lalu keluarganya ngotot memintanyanya agar berbuka saja namun
dia menolak. Sungguh dia telah menolak, karena dia berharap kalau kelak dia
bisa berbuka dengan seteguk air dari sungai Kautsar di dalam bejana emas dan di
tangan bidadari .
Sumber : http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/%E2%80%98urwah-bin-az-zubair.html
